Merdeka Untuk Anakku

“Abi, bangun sudah jam 07 pagi. Sebentar lagi upacara bendera akan dimulai,” ucap seorang wanita berjilbab yang tak lain adalah Umi Asni istri dari Abi Ali.

“Iya Umi, ini juga sudah bangun kok. Gimana Barack? Sudah siap?” tanya Abi Ali dengan wajah bantal yang kentara.

“Tentu saja, masa Abi kalah sama anaknya sendiri yang siap dari subuh,” ledek Umi Asni sambil menggendong Barack ke luar kamar.

Terdengar sayup-sayup suara nyanyin lagu kemerdekaan dari lapangan perumahan tak jauh dari rumah Umi Asni dan Abi Ali, mereka tergesah memasuki barisan paling belakang bergabung dengan para warga lainnya. Umi Asni terlihat mengatur napasnya yang terengah sambil menurunkan Barack ke kereta dorongnya.

Umi tersenyum melihat ekspresi Barack yang nampak tak nyaman berada dikeramaian, namun Umi Asni membiarkannya karena ingin memperkenalkan Barack tentang meriahnya hari kemerdekaan yang rakyat sambut suka cita.

Memiliki anak berkebutuhan khusus tak membuat wanita yang dikenal sebagai wanita yang ramah untuk mudah menyerah. Meski Barack bukanlah anak normal seperti anak pada umumnya tetapi semangat dan dukungan dari umi dan abi untuk mengenalkan dunia tak pernah surut.
Contohnya menyambut hari kemerdekaan ini, umi tetap mengajak abi dan Barack untuk ikut pesta kemerdekaan ini.

Umi terlihat bahagia meski ada tetesan air mata terlihat tak membuatnya lemah dia tetap mengajak Barack ikut lomba makan kerupuk meski dia tahu bahwa putra terkasihnya tak mampu untuk melakukan itu, semangatnya tak pernah luntur.

“Abi, Umi mau daftarin Barack lomba makan kerupuk yah?”

Abi Ali terlihat murung namun berusaha untuk menuruti keinginan sang istri meski dia tahu akhirnya, asalkan istrinya bahagia dia rela melakukan apapun.

“Ya Umi, nanti Abi yang gendong Barack yah?” pinta abi yang disetujui Umi Asni dengan riang.

Saat lomba dimulai, Umi Asni berdiri tak jauh dari suami dan anaknya sambil memegang kamera, ia berusaha tersenyum mengabadikan setiap momen perkembangan putranya itu.

Umi tertawa sambil terus menyoraki abi yang menuntun Barack demi menyentuh kerupuk di hadapannya.
Umi Asni tak berharap putranya juara satu, cukup putranya bisa berinteraksi dengan kemerdekaan itu sudah cukup.

Meski tak nyaman mendengar keramaian dan terlihat Barack ingin menangis, namun Umi Asni tetap mendukung hingga Barack berhasil memegang kerupuk itu, walau tak berhasil memakannya itu sudah kemajuan seorang Barack, anak berkebutuhan khusus yang memiliki orang tua pantang menyerah.

Umi Asni meneteskan air mata sambil mengambil alih Barack dalam pelukannya.

“Nak, meski kamu tak normal seperti anak pada umumnya, umi tetap bangga dan bahagia mengikuti pertumbuhanmu yang lebih lama dari anak lain, ketahuilah nak, merdeka umi dan abi adalah saat kamu tetap sehat dan tersenyum umi akan selalu ada untuk mengenalkanmu pada lomba-lomba kemerdekaan kita karena pada dasarnya kamu adalah merdekanya umi dan abi.”

Umi Asni masih saja terseduh membuat Abi Ali turut sedih namun berusaha mencairkan suasana dengan mengajak Barack dan Umi Asni ikut lomba balap karung, meski kali ini abi yang harus masuk dalam karung. Senyum simpul Barack terlihat saat abinya mulai balapan, terjatuh, kemudian berdiri lagi dan Barack bertepuk tangan ketika abinya berhasil mendapatkan juara.

Sungguh merdeka sesungguhnya bukan hanya tentang lomba, menang, dan kalah tapi bagi orang tua seperti umi dan abi adalah memberikan pemahaman pada putra tercintanya apa arti kemerdekaan yang sebenarnya.

Biodata penulis.
Hardianti Ahmad, lahir di Makassar 26 Juli 1994. Memiliki impian menjadi seorang penulis. Dia menyukai dunia literasi sejak masih SD, namun mulai belajar akhir tahun 2018 hingga sekarang bersama KSI.

Aku Cinta Indonesia-ku.

Semakin pergantian zaman dan majunya teknologi, kehidupan dan kepentingan menjaga kebaikan negara pun semakin berkurang. Aku semakin tak melihat arti dari hari kemerdekaan yang sedang kita rayakan.

Dari sekian banyak warga Indonesia yang ikut dalam upacara bendera 17 Agustus 2019, yang kulihat mereka hanya berlomba untuk terlihat keren di dunia maya.

Terkadang logikaku menolak hal yang tak patut pada hari bersejarah ini. Sempat terpikir dalam benak, sekiranya kita hidup pada awal kemerdekaan mungkin akan ada peluru menembus raga saat itu juga karena sama sekali tak menghargai perjuangan para pendahulu kita.

Ah, kenalkan namaku Vita. Aku masih SMA di salah satu sekolah ternama di Bogor, Jawa Barat.
Aku tidak bermaksud men-judge atau menghina sekolahku hanya saja yang aku tak habis pikir ketika pengibaran sang Merah Putih kami melakukan penghormatan dengan hikmat, namun bukan rasa hormat yang kulihat melainkan saling adu keterampilan depan kamera. Miris!

Rasanya sedih melihat mereka yang mengaku berpendidikan tinggi nyatanya tidak memakai logika saat bendera sang merah putih berkibar dengan gagah.

Sebaliknya, mereka yang non-berpendidikan jauh lebih menghormati berkibarnya sang pusaka untuk mengenang perjuangan pahlawan terdahulu kita.

Aku hanya ingin kita saling merasakan arti pengibaran pusaka kita tanpa mengurangi sedikit pun zaman yang semakin berkembang.

18 Agustus 2019.

Pentingnya Menjaga Kelestarian Sungai.

Kebersihan lingkungan adalah hal yang sangat penting bagi manusia. Sebab, kebersihan berpengaruh terhadap kesehatan kita sendiri. Bukan hanya tentang kesehatan, kenyamanan kita yang melintas di suatu daerah pun juga akan berpengaruh pada tingkat kebersihan tempat itu.

Kebersihan lingkungan perlu diapresiasikan melalui kesadaran kita seperti tidak membuang sampah sembarangan atau mencemari wilayah sungai dengan berbagai macam sampah rumah tangga.
Sungai yang bersih akan membuat kita dan masyarakat yang tinggal di dekat sungai pun akan merasa nyaman sekaligus terhindar dari kukungan penyakit.
Akan tetapi, terkadang kesadaran kita masih di bawah angka nol, sebab masih saja ada warga yang membuang sampah ke dalam sungai. Malasnya ke pembuangan sampah menjadi salah satu alasan warga membuang sampah ke sungai, sehingga banyak warga yang berpikiran pendek ikut membuang sampah ke sungai tersebut dan mengatas namakan sungai lebih praktis dan sampahnya pun hanya sedikit.
Sungguh ironis melihat banyaknya masyarakat yang tidak memikirkan dampak dari tidak menjaga kebersihan.

Seandainya masyarakat memiliki pemikiran terbuka maka dalam benaknya akan tertulis bahwa sedikit apa pun sampah yang dibuang ke sungai tetap bisa membuat sungai tercemar.
Bisa kalian bayangkan sampah yang kita buang seperti bungkusan sabun, plastik, dan sampah -sampah lainnya tidak hanya satu orang yang membuangnya tetapi lebih dari seratus orang dalam sehari. Bukankah sungai tersebut akan menjadi sangat kotor?

Masyarakat seharusnya bisa berpikir dan sadar betapa pentingnya kebersihan lingkungan seperti sungai.
Apakah kalian bisa bayangkan dampak besarnya selain daripada pemandangan yang tak enak di lihat atau bau tak sedap? Seiring berjalannya waktu dampak besarnya adalah banjir.

Masyarakat seyogyanya sadar bahwa kebersihan sungai adalah tanggung jawab kita bersama.
Dalam hal seperti ini, sepatutnya masyarakat yang tinggal di sekitaran sungai dapat bertanggung jawab untuk menjaga kebersihan sungai. Sepatutnya untuk lebih membuka pikiran kita diberikan sanksi tersendiri bagi pelaku buang sampah sembarangan di sungai agar tak adalagi pencemaran terjadi yang merusak kelestarian sungai.

Aku dan Kecewaku.

Aku pernah ditinggalkan tanpa sepatah kata.
Pergi dan tak kembali tanpa kata perpisahan.
Kau memberi harapan sedang aku bertahan pada asa yang kau tabur.
Rahsaku bergetar oleh sukma yang menangis.

Jiwaku berselimut duka.
Ragaku dirundung pilu.
Gelebahku tak berujung.
Hatiku resah akan ketakutan kehilangan kau yang tak pernah kumiliki.

@Pengagum_Senja

Makassar, 26 Juli 2019

My New Story

Kutatap langit dalam sunyi.
Entah harus tersenyum dalam luka
atau harus memakai topeng bahagia
Demi menutupi gundah lara yang terselubung perih.
Rembulan mencoba meraih jemariku.
Namun ia enggan menghalau kecewaku.
Bintang bertebaran di langit malam.
Keindahan kerlipannya tak mampu menghapus memori lukaku.
Hingga senja menyapa rasaku masih sama yaitu kecewa.

Pengagum Senja
Makassar 26 Juli 2019

My New Story

Kutatap langit dalam sunyi.
Entah harus tersenyum dalam luka
atau harus memakai topeng bahagia
Demi menutupi gundah lara yang terselubung perih.
Rembulan mencoba meraih jemariku.
Namun ia enggan menghalau kecewaku.
Bintang bertebaran di langit malam.
Keindahan kerlipannya tak mampu menghapus memori lukaku.
Hingga senja menyapa rasaku masih sama yaitu kecewa.

Pengagum Senja
Makassar 26 Juli 2019

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai